Yup..., Itulah kata" yang pernah kita dengar dari Ustadz ternama di negeri ini..., Yaitu Ustadz Yusuf Mansur...
tapi taukah kita apa yang sering didengungkan ustadz terseebut itu..?
nich ane berikan contoh dari beliau sendiri... (kalo hikmahnya diambil sendiri2 yach.., hehehe :D)
Ustadz yusuf Mansur memberikan contoh
yang sangat bagus sekali mengenai implementasi dari konsep “Allah dulu,
Allah lagi, Allah terus” ini.
Gini ceritanya, ada seorang bapak, sebut
saja Pak Ahmad. Beliau butuh biaya kuliah untuk anaknya. Di rumah beliau
punya sepeda motor yang bisa dijual untuk memenuhi biaya kuliah
tersebut. Kemuangkinan terjual 2,5 juta, namun Pak Ahmad ini butuhnya 4
juta. Ketika anaknya datang meminta uang ke Pak Ahmad, jika beliau orang
biasa, beliau akan bilang “Iya nak, ada motor, nanti akan bapak jual
untuk membiayai kuliahmu”.
Menurut kalian ada yang salah nggak dengan jawaban Pak Ahmad tadi? Aku pun berpikiran apanya yang salah ya dari jawaban tadi. Ternyata nggak gitu sodara-sodara, Pak Ahmad ini karena tau betul gimana tawakal menjawab “Ya nak, bapak tak konsultasi dulu ke Allah, karena kemungkinan bapak bisa menjual motor bapak”. Kemudian Pak Ahmad sholat dhuha lalu berangkat ikhtiyar untuk menjual motornya. Dari sini, pak ahmad tidak menggantungkan penolongnya kepada motor, tapi Allah lah yang didahulukan (Allah dulu).
Selanjutnya, setelah nyampe ke toko dimana motornya mau dijual, terjadi tawar menawar antara pak Ahmad dengan pembeli,
Pak ahmad : “ini saya mau jual motor, saya tawarkan 4 juta rupiah, bagaimana pak?”
Pambeli : “motor kayak gini 4 juta, 2 juta pak”
Pak ahmad : “waduh pak, jangan 2 juta, saya butuh 4 juta untuk biaya kuliah anak saya”
Pembeli : “ya udah, 2,5 juta, mau kagak?”
Pak ahmad : (kalo 2,5
juta, yang 1,5 juta laginya dari mana, tapi gak papa lah ada Allah)
“hmmm, sebentar ya pak, saya tak ijin dulu ke Allah, boleh nggak 2,5
juta” (Allah lagi)
Pembeli : “ya udah sono, tanyain ke Allah, 2,5 juta boleh kagak”
Akhirnya Pak Ahmad mencari mushola,
beliau wudhu dan sholat sunnah. Setelah itu beliau berdoa kepada Allah,
mengadukan semua yang menjadi permasalahannya, meminta jawaban apakah
beliau harus menjual motornya seharga 2,5 juta. Kalo memang Allah
mengijinkan, sisanya yang 1,5 juta pasti akan Allah carikan jalan untuk
memenuhinya.
Apakah tiba-tiba jawaban dari Allah
langsung terdengar oleh Pak Ahmad? Tidak seperti itu, jawaban itu berupa
isyarat, bisa jadi ketika nanti Pak Ahmad balik menemui pembeli,
pembelinya sudah pergi, itu berarti Allah tidak mengijinkan, jika
pembelinya tetap menunggu, berarti Allah mengijinkan. Atau mungkin ada
isyarat-isyarat lain yang memperlancar atau menghambat proses jual
belinya itu.
Setelah Pak Ahmad mantap dengan niatnya,
yang ingin menjual dengan harga 2,5 juta. Beliau akhirnya keluar dari
mushola untuk menemui pembeli itu tadi. Eh, tanpa disangka-sangka, apa
yang terjadi? Motornya sudah tidak ada ditempat, raib entah ke mana.
Wah, gimana ini, kira-kira kalo kita yang ada diposisi Pak Ahmad, apa
yang akan kita lakukan? Hmmm,,, unpredictable… tapi Pak Ahmad mencoba
untuk tegar, karena beliau sejak awal tidak menyandarkan hidupnya pada
motornya itu, beliau masih punya Allah yang tidak akan pernah hilang.
Akhirnya beliau yang masih punya wudhu, sholat lagi mengadu ke Allah
atas apa yang menimpanya ini. Kali ini dijamin sholatnya lebih khusyu’
dari yang sebelumnya (hehe…).
Melihat ayahnya yang pulang ke rumah
tanpa membawa motor, anaknya bertanya, “gimana pak, motornya sudah
terjual?” pak ahmad hanya bisa memasrahkan semuanya pada Allah. Dan
yakin nanti akan diganti oleh-Nya (Allah terus).
Yup, sambil denger cerita itu, terasa
tertohok-tohok diriku. Selama ini, rasanya si sudah tawakkal gitu, tapi
belum mengamalkan yang Allah dulu, Allah lagi, Allah terus.
Semoga bermanfaat…Wallahu a’lam bisshowab
kalau mau dengerin tausiayahnya ustadz yusuf mansur yang ini..
bisa anda download disini (klik tulisan disini ituw yach..)
kalau mau dengerin tausiayahnya ustadz yusuf mansur yang ini..
bisa anda download disini (klik tulisan disini ituw yach..)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar